Selasa, 23 September 2008

Cerpen:WAJAH


19 Nopember……….
Ya, saat aku ingat malam itu hujan deras mengguyur dinding-dinding kamar kosan terasa dingin yang seakan-akan menusuk tulangku.
Oh, Tuhan luka itu kini telah berdarah tak ingin ku ulangi kembali terasa perih, perih yang menyesakkan.
Laci itu, laci yang tak ingin aku sentuh lagi untuk selamanya. Tapi, setan apa! Yang membuatku tak kuasa ingin membukanya. Kenapa, kenapa? Tanganku tak mau pergi dari laci itu. Dan….mataku terbelalak saat senyum, senyum manis itu terlihat jelas. Yaaa, aku masih ingat senyum itu, senyum yang masih melekat jauh dari terawangku dalam sebuah bingkai foto. Ada segelintir perih yang menoreh disana saat ku pegang dan aku sentuh tiap inci dari foto mu yang tak pernah bisa menyentuh hatimu yang sekeras batu. Tapi kini tidak lagi aku ingin memilikimu, bersamamu, mendampingimu. Aku lelah dengan semuanya dan aku tak sanggup lagi berjalan disampingmu dalam setiap langkahmu, karena aku bukan “budak” aku temanmu yang selalu setia mendampingi, mengisi hari-harimu dengan harapan-harapan manis dan suka duka yang pernah kita lalui bersama.
Masih aku ingat kata-kata yang kau lempar padaku hingga membuatku seperti ini dan air mata menghiasi kejadian malam itu.”Aku sudah membuatmu senang, jadi seharusnya kamu menuruti semua keinginanku”. Sakit, sakit sekali mendengar ucapanmu. Apakah selama ini persahabatan kita kau nilai dengan materi? Dan kau bisa berbuat semaunya padaku sampai menginjak-nginjakku. Adakah kau tahu selama ini aku cukup bersabar dengan segala tingkahmu dan aku tidak inginkan semua materi itu yang bisa membutakan orang. Aku hanya ingin persahabatan kita utuh selamanya karena aku sayang kamu dan tak mau kehilanganmu.
Sejak kau lempar kata-kata itu, aku mulai sadar betapa bodohnya aku yang begitu percaya dan menganggap dirimu teman sejati dalam hidupku. Kini kita tak pernah bertemu lagi dan aku tak tahu dirimu ada dimana, mungkin lebih baik aku tak ingin tahu tentang dirimu lagi karena luka itu belum sembuh benar. Tapi harus ku yakini ini sejarah bagi ku. Sejarah yang terkadang masih menghantui pikiran.

12 Mei………
Braaak……! tiba-tiba hp Flexiku tanpa aku sadari jatuh dari tanganku. Aku kaget setengah mati mendengar kabar kalau dirimu kecelakaan dan kehilangan sebelah kakimu. ”Sit, sit, sit …..hallo, hallo, hallo….sit, kamu masih disitu? Kamu tidak apa-apa sit?” tanya tante Rani. ”Ia tante aku tidak apa-apa”. Tut, tut, tut, tut……seketika aku matikan hpku.
Sedihkah aku mendengar berita ini? Bahagiakah aku mendengar kejadian ini? Masih adakah rasa peduliku untukmu yang telah menanam luka itu. Ya, Tuhan aku harus bagaimana, apakah aku harus mengunjunginya di rumah sakit dengan melihat wajah yang bagiku sudah muak aku melihatnya.
Keesokan harinya temanku bertanya, ”Sit kapan jenguk Arca?”. Tapi mulutku enggan menjawab, aku merasa males untuk menjawabnya.
Sudah tiga hari kamu berada di rumah sakit dalam keadaan koma, aku terus berpikir dan berpikir apa yang mesti aku lakukan? Rasanya hati ini tidak rela memaafkan dirimu. Brengsek! Setan di dalam jiwaku masih kuat saja untuk membenci dirimu. Tapi akhirnya setan di jiwaku kalah juga setelah seorang teman yang setengah rohis menceramahiku dengan berbagai aqidah, aqidah yang selama ini aku gantung.
Dengan setenga pikiran kacau aku beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi dan siap berangkat ke rumah sakit. Di kamar mandi aku melihat wajahku pada bak mandi yang berisi air jernih sejernih jiwaku sebelum kejadian itu, aku tatap wajahku yang terasa aneh akhir-akhir itu. Ya, benar wajahku di bak mandi terlihat jelas kebencianku terhadap dirimu. Sampai aku tak mengenali wajahku.
Ah, aku tidak perduli apakah aku masih membencimu atau telah luntur kebencianku? Yang terpenting aku harus keluar dari kamar mandi ini, bisa-bisa aku disidang teman-teman satu kosan.
Sesampai di rumah sakit kamar 305A aku lihat tante Rani penuh senyum melihat kedatanganku. ”Sit, masuk sini duduk di dekat Arca” kata tante Rani, dengan sedikit senyum lebarnya. Aku hanya bisa mengangguk saja dan aku pun menuju ketempat dirimu terkujur tak berdaya. Ada senyum melekat disana, senyum yang tidak pernah bisa aku lupakan. Tiba-tiba air mata mengalir deras dipipiku, sungguh terasa aneh bin ajaib ,kenapa tiba-tiba aku menangis untuk sebuah luka. Aku benar tidak sadar, kok bisa aku mengeluarkan air mata saat melihat kondisimu. Semua orang yang berada di ruangan itu tercengang melihatku dengan sebuah air mata yang aku sendiri tak mengerti makna air mata itu.
Tak sepatah kata dariku yang bisa ku ucapakan padamu. Dan kau terus menggenggam tanganku dan tersenyum lepas. “Sit , kau masih mau bersamaku lagi?” kamu lontarkan kata-kata itu tanpa berpikir bagaimana perasaanku. Aku hanya bisa terdiam dengan air mata yang terus saja mengalir deras dari pelupuk mata.
Di angkot aku terus melamun dengan kejadian di rumah sakit itu. Aku menangis untuk sebuah luka? aku kalah dengan perasaanku sendiri? Apakah aku sedih dengan keadaanmu? Aku benar-benar tidak tak mengerti apa yang terjadi dengan diriku.
Brengsek! akhirnya aku luluh juga dengan mu, aku benar-benar kalah, aku goblok dengan tangisan itu. Setan dijiwaku mulai memperkuat bentengnya lagi.
Gara-gara kejadian di rumah sakit itu aku tidak bisa tidur semalaman. Uuuh! Aku bingung dan benar bingung dengan diriku sendiri.
Kriiing…kriiing…kriiing. ”Hallo, hallo, hallo! sit, dia telah pergi”.
“Dia, dia, diii…aaa siapa tante?” tanyaku setengah sadar. ”Arca, sit” jawab tante Rani dengan nada sedikit parau. Oh, Tuhan luka itu telah pergi selamanya dariku, gundah jiwaku yang mulai tidak aku kenali sembari menuju ke sebuah cermin di kamarku dan terlihat garis senyum di wajahku…….ternyata setan yang bersarang dijiwaku sudah berubah menjadi sebuah wajah, wajah yang sama di bak mandi itu.



Tidak ada komentar: