Cerpen 4
Aduh……!bising sekali diluar sana, ada apa, ya?gerutuku sembari keluar menuju suara yang mebuatku gendang telingaku mau pecah.
Oh, ternyata orang berebut antrian sedekah. Biasalah sekarang lagi bulan Ramadhan. Aku hanya duduk berdiam diri dengan arah mata memandang orang-orang yang sedang antrian sedekah.
Tanpa aku sadari pikiranku mulai menerawang jauh keperistiwa 10 tahun silam. Semua berkisah saat bulan Ramadhan dan di malam takbiran hidup semakin dipenuhi tangisan. Malam takbiran yang seharus menjadikan malam menuju hari kemenangan bagi umat islam, tapi bagi ku malam jeritan hati.
Aku masih ingat kata-kata Bapak.”Suatu saat nanti harus menjadi seorang wanita yang bisa menjaga diri, wanita yang cantik di setiap hati orang yang kau kenal dan wanita yang selalu tegar mengahdapi kenyataan hidup”.
“Kenapa aku harus seperti itu, Bapak?” tandasku dengan polos.”Suatu saat nanti kamu akan tahu jawabannya jika kamu menginjak dewasa” jawab Bapak dengan nada lembut.
Bapak selalu mengajak aku jalan-jalan dan banyak bercerita tentang sebuah kehidupan. Jika aku sakit Bapak pasti akan meneteskan air mata sambil mengelus keningku dan berkata “Dara kecilku, malaikat kecilku, cepat sembuh ya”. Ibuk hanya tersenyum melihat keanehan yang ada pada Bapak.
Bapak sering membawakan cerita Cinderella tiap kali aku mau tidur. Aku tidak akan bosan-bosannya mendengarkan cerita itu. Pernah, satu ketika Bapak mengganti dengan cerita lain, tapi aku bilang sama Bapak ”kalau aku tidak akan bisa tidur tanpa cerita putri Cinderella” dan Bapak mengangguk sambil tersenyum kearahku.
Setiap pulang dari kantor Bapak pasti mencariku, kalau tidak ketemu dengan dara kecilnya, disetiap sudut rumah dia terus mencari dan mencariku. Ibuk sering bilang kalau aku ini adalah anak kesayangan Bapak.
Aku putri bungsu Bapak. Sedangkan mbakku yang pertama bernama Santi. Mbak Santi sudah menikah dengan seorang pemuda dari lulusan pondok. Sekarang ikut dengan suaminya ke negeri seribu satu malam alias jadi TKW, maklumlah suaminya hanya lulusan pondok. Sebenarnya Bapak dan ibuk kurang setuju dengan hubungan mereka karena mereka masih muda untuk membina sebuah rumah tangga. Bapak ingin mbak Santi kuliah dulu. Waktu mbak Santi menikah dia baru lulus SMA dan suaminya lulusan pondok yang pekerjaannya tidak menetap. Tapi, saking cinta mati mbak Santi sampai kurus kering memikirkan hubungannya yang ditentang, melihat keadaan mbak Santi kedua orang tuaku tidak tega dan akhirnya kedua orang tuaku mengikhlaskan hubungan mereka. Mbak ku yang kedua bernama Nisak, mbak Nisak dari kecil sudah dipingit oleh nenek. Alasan Bapak memperbolehkan mbak Nisak dipingit oleh nenek karena sewaktu ibuk mengandung mbak Nisak, ibuk sering sakit-sakitan. Sejak itu Bapak berjanji akan mengikhlaskan bayi yang ada dalam kandungan ibuk untuk dipingit nenek asal ibuk tidak sakit-sakitan. Nenek sudah berniat memingit mbak Nisak. Sewaktu ibuk mengandung mbak Nisak, Jadi tinggalah aku harapan satu-satunya kedua orang tua ku.
Saat bulan Ramadhan tiba biasanya Bapak sibuk dengan mempersiapkan sedekah untuk orang yang berhak diberi sedekah.”Rara, Ramadhan tinggal empat minggu lagi, kalau Rara bisa hatam Qur’an, Bapak akan memberikan hadiah buat lembaran dan hadiah itu adalah hadiah yang selama ini Rara impikan” kata Bapak.
“Memangnya Bapak tahu apa hadiah yang Rara inginkan?”sahutku dengan penuh keheranan. “Oh, tentu dara kecilku” ketus Bapak sambil mencibir pipiku.
Ramadhan sudah setengah bulan, aku hampir hatam Qur’an. Bapak kini jarang dirumah. Bapak sibuk dengan tugasnya diluar kota. Ada sebuah kerinduan yang begitu dalam. Aku sering menunggu Bapak di teras rumah. Ibuk hanya diam dan tersenyum melihatku sambil memelukku.
Tok, tok, tok……! tengah malam terdengar seseorang mengetuk pintu dan aku mendengar langkah ibuk membuka pintu. Entah, kenapa malam itu mataku terasa berat, aku tarik selimutku lagi sampai menutupi seluruh tubuhku.
Praaaaak…...! suara tamparan keras hingga membangunkanku dari tidur. Aku segera menuju suara itu berasal. Ya, Tuhan jantungku seketika berhenti , kepalaku pening rasanya aku ingin menjatuhkan diri di lantai. Dengan sekuat tenaga aku paksakan untuk melihat pemandangan itu. Bapakku datang dengan membawa seorang wanita kerumah. Dan malam itu aku masih ingat Bapak mengutarakan keinginannya untuk menikahi wanita itu. Ibuk menangis dan menolak permintaan Bapak. Karena penolakan ibuk, Bapak menampar ibuk berkali-kali sampai ibuk tidak sadarkan diri. Ingin rasanya aku berteriak dan memeluk ibuk. Tapi, mulutku terkunci dan tubuhku terasa berat untuk aku gerakkan. Kemudian Bapak pergi dengan wanita itu, meninggalkan ibuk dalam keadaan tidak sadarkan diri. Aku lari dengan sekuat-kuatnya”Bapak jangan tinggalkan kami…!” teriakku. Bapak tak sekalipun menoleh kearahku.
Peristiwa itu menjadikan isakkan tangisan yang sangat mendalam bagi kami. Bapak yang dulu sangat mencintai keluarga dan selalu kami banggakan telah pergi entah kemana.
Hari demi hari aku lewati dengan melihat keadaan ibuk semakin hari keadaannya memburuk, ibuk sering sakit-sakitan semenjak peristiwa itu. Sedangkan aku dirumah tidak betah dengan keadaan itu, seandainya dosa itu tak mungkin ada, aku lebih baik memilih mati dari pada harus menerima kenyataan itu. Semuanya terasa tidak mengenakkan hari-hari yang aku lalui dirumah.
Di malam takbiran ibuk menghembuskan nafas untuk yang terakhir kalinya. Aku hanya bisa menangis, menangis dan terus menangis……………….semua anak-anak bersambut riang gembira menunggu datangnya hari kemenangan, tapi bagiku tidak.
Meninggalnya ibuk tidak bisa aku kabarkan ke Bapak karena aku tidak tahu keberadaannya.
“Dik, dik, dik……! Ada bingkisan lebaran buat mu” panggil mbak Santi. Dengan perasaan bingung aku buka bingkisan itu. Masyaalloh, ini sebuah baju muslim lengkap dengan jilbabnya. Bingkisan itu dari Bapak. Aku menjerit sejadi-jadinya di kamar. Bingkisan itu, memang bingkisan yang aku impikan selama ini dari Bapak. Aku sempat mengutarakan niatku pada Bapak untuk memakai jilbab.
Aku benci Bapak, masih pantaskah dia, aku sebut seorang Bapak? Kemanakah Bapak yang dulu? Bapak sekarang, bukan Bapakku yang dulu, dia seorang pembunuh, dia telah membunuh ibuk. Aku segera membawa bingkisan itu ke belakang rumah. Aku kubur bingkisan itu karena aku tidak ingin melihat Bapak atau pun mendengar keadaanya seorang pembunuh ibuk.
****
Tanpa aku sadari air mataku mengalir deras dipipi. Aku tersadar dan segera mengusap air mataku sambil bergegas masuk kedalam rumah. Waktu itu Bapak masih ingat dengan janjinya dan aku pun juga masih ingat ucapannya sampai detik ini . Bapak kau suruh aku untuk menjadi wanita yang tegar dalam menghadapi kenyataan hidup, baik….akan aku buktikan. Aku bisa melewati hidup ini tanpa Bapak, tanpa seorang pembunuh ibuk.
Kini aku tinggal bersama bude Iyan, aku diasuhnya sejak ibuk meninggal. Bude Iyan seorang janda dan memiliki dua orang anak. Bude Iyan bagiku seperti malaikat dia sangat baik pada keluargaku. Suatu saat aku ingin membalas kebaikannya karena bude Iyan lah aku bisa menempuh pendidikan sampai S1 dan aku sekarang sudah bekerja pada sebuah Bank Swasta di kota pahlawan ini.
Oh, Tuhan jika ini memang jalan hidupku, berilah aku kekuatan.
Sabtu, 27 Desember 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar