Cerpen 4
Aduh……!bising sekali diluar sana, ada apa, ya?gerutuku sembari keluar menuju suara yang mebuatku gendang telingaku mau pecah.
Oh, ternyata orang berebut antrian sedekah. Biasalah sekarang lagi bulan Ramadhan. Aku hanya duduk berdiam diri dengan arah mata memandang orang-orang yang sedang antrian sedekah.
Tanpa aku sadari pikiranku mulai menerawang jauh keperistiwa 10 tahun silam. Semua berkisah saat bulan Ramadhan dan di malam takbiran hidup semakin dipenuhi tangisan. Malam takbiran yang seharus menjadikan malam menuju hari kemenangan bagi umat islam, tapi bagi ku malam jeritan hati.
Aku masih ingat kata-kata Bapak.”Suatu saat nanti harus menjadi seorang wanita yang bisa menjaga diri, wanita yang cantik di setiap hati orang yang kau kenal dan wanita yang selalu tegar mengahdapi kenyataan hidup”.
“Kenapa aku harus seperti itu, Bapak?” tandasku dengan polos.”Suatu saat nanti kamu akan tahu jawabannya jika kamu menginjak dewasa” jawab Bapak dengan nada lembut.
Bapak selalu mengajak aku jalan-jalan dan banyak bercerita tentang sebuah kehidupan. Jika aku sakit Bapak pasti akan meneteskan air mata sambil mengelus keningku dan berkata “Dara kecilku, malaikat kecilku, cepat sembuh ya”. Ibuk hanya tersenyum melihat keanehan yang ada pada Bapak.
Bapak sering membawakan cerita Cinderella tiap kali aku mau tidur. Aku tidak akan bosan-bosannya mendengarkan cerita itu. Pernah, satu ketika Bapak mengganti dengan cerita lain, tapi aku bilang sama Bapak ”kalau aku tidak akan bisa tidur tanpa cerita putri Cinderella” dan Bapak mengangguk sambil tersenyum kearahku.
Setiap pulang dari kantor Bapak pasti mencariku, kalau tidak ketemu dengan dara kecilnya, disetiap sudut rumah dia terus mencari dan mencariku. Ibuk sering bilang kalau aku ini adalah anak kesayangan Bapak.
Aku putri bungsu Bapak. Sedangkan mbakku yang pertama bernama Santi. Mbak Santi sudah menikah dengan seorang pemuda dari lulusan pondok. Sekarang ikut dengan suaminya ke negeri seribu satu malam alias jadi TKW, maklumlah suaminya hanya lulusan pondok. Sebenarnya Bapak dan ibuk kurang setuju dengan hubungan mereka karena mereka masih muda untuk membina sebuah rumah tangga. Bapak ingin mbak Santi kuliah dulu. Waktu mbak Santi menikah dia baru lulus SMA dan suaminya lulusan pondok yang pekerjaannya tidak menetap. Tapi, saking cinta mati mbak Santi sampai kurus kering memikirkan hubungannya yang ditentang, melihat keadaan mbak Santi kedua orang tuaku tidak tega dan akhirnya kedua orang tuaku mengikhlaskan hubungan mereka. Mbak ku yang kedua bernama Nisak, mbak Nisak dari kecil sudah dipingit oleh nenek. Alasan Bapak memperbolehkan mbak Nisak dipingit oleh nenek karena sewaktu ibuk mengandung mbak Nisak, ibuk sering sakit-sakitan. Sejak itu Bapak berjanji akan mengikhlaskan bayi yang ada dalam kandungan ibuk untuk dipingit nenek asal ibuk tidak sakit-sakitan. Nenek sudah berniat memingit mbak Nisak. Sewaktu ibuk mengandung mbak Nisak, Jadi tinggalah aku harapan satu-satunya kedua orang tua ku.
Saat bulan Ramadhan tiba biasanya Bapak sibuk dengan mempersiapkan sedekah untuk orang yang berhak diberi sedekah.”Rara, Ramadhan tinggal empat minggu lagi, kalau Rara bisa hatam Qur’an, Bapak akan memberikan hadiah buat lembaran dan hadiah itu adalah hadiah yang selama ini Rara impikan” kata Bapak.
“Memangnya Bapak tahu apa hadiah yang Rara inginkan?”sahutku dengan penuh keheranan. “Oh, tentu dara kecilku” ketus Bapak sambil mencibir pipiku.
Ramadhan sudah setengah bulan, aku hampir hatam Qur’an. Bapak kini jarang dirumah. Bapak sibuk dengan tugasnya diluar kota. Ada sebuah kerinduan yang begitu dalam. Aku sering menunggu Bapak di teras rumah. Ibuk hanya diam dan tersenyum melihatku sambil memelukku.
Tok, tok, tok……! tengah malam terdengar seseorang mengetuk pintu dan aku mendengar langkah ibuk membuka pintu. Entah, kenapa malam itu mataku terasa berat, aku tarik selimutku lagi sampai menutupi seluruh tubuhku.
Praaaaak…...! suara tamparan keras hingga membangunkanku dari tidur. Aku segera menuju suara itu berasal. Ya, Tuhan jantungku seketika berhenti , kepalaku pening rasanya aku ingin menjatuhkan diri di lantai. Dengan sekuat tenaga aku paksakan untuk melihat pemandangan itu. Bapakku datang dengan membawa seorang wanita kerumah. Dan malam itu aku masih ingat Bapak mengutarakan keinginannya untuk menikahi wanita itu. Ibuk menangis dan menolak permintaan Bapak. Karena penolakan ibuk, Bapak menampar ibuk berkali-kali sampai ibuk tidak sadarkan diri. Ingin rasanya aku berteriak dan memeluk ibuk. Tapi, mulutku terkunci dan tubuhku terasa berat untuk aku gerakkan. Kemudian Bapak pergi dengan wanita itu, meninggalkan ibuk dalam keadaan tidak sadarkan diri. Aku lari dengan sekuat-kuatnya”Bapak jangan tinggalkan kami…!” teriakku. Bapak tak sekalipun menoleh kearahku.
Peristiwa itu menjadikan isakkan tangisan yang sangat mendalam bagi kami. Bapak yang dulu sangat mencintai keluarga dan selalu kami banggakan telah pergi entah kemana.
Hari demi hari aku lewati dengan melihat keadaan ibuk semakin hari keadaannya memburuk, ibuk sering sakit-sakitan semenjak peristiwa itu. Sedangkan aku dirumah tidak betah dengan keadaan itu, seandainya dosa itu tak mungkin ada, aku lebih baik memilih mati dari pada harus menerima kenyataan itu. Semuanya terasa tidak mengenakkan hari-hari yang aku lalui dirumah.
Di malam takbiran ibuk menghembuskan nafas untuk yang terakhir kalinya. Aku hanya bisa menangis, menangis dan terus menangis……………….semua anak-anak bersambut riang gembira menunggu datangnya hari kemenangan, tapi bagiku tidak.
Meninggalnya ibuk tidak bisa aku kabarkan ke Bapak karena aku tidak tahu keberadaannya.
“Dik, dik, dik……! Ada bingkisan lebaran buat mu” panggil mbak Santi. Dengan perasaan bingung aku buka bingkisan itu. Masyaalloh, ini sebuah baju muslim lengkap dengan jilbabnya. Bingkisan itu dari Bapak. Aku menjerit sejadi-jadinya di kamar. Bingkisan itu, memang bingkisan yang aku impikan selama ini dari Bapak. Aku sempat mengutarakan niatku pada Bapak untuk memakai jilbab.
Aku benci Bapak, masih pantaskah dia, aku sebut seorang Bapak? Kemanakah Bapak yang dulu? Bapak sekarang, bukan Bapakku yang dulu, dia seorang pembunuh, dia telah membunuh ibuk. Aku segera membawa bingkisan itu ke belakang rumah. Aku kubur bingkisan itu karena aku tidak ingin melihat Bapak atau pun mendengar keadaanya seorang pembunuh ibuk.
****
Tanpa aku sadari air mataku mengalir deras dipipi. Aku tersadar dan segera mengusap air mataku sambil bergegas masuk kedalam rumah. Waktu itu Bapak masih ingat dengan janjinya dan aku pun juga masih ingat ucapannya sampai detik ini . Bapak kau suruh aku untuk menjadi wanita yang tegar dalam menghadapi kenyataan hidup, baik….akan aku buktikan. Aku bisa melewati hidup ini tanpa Bapak, tanpa seorang pembunuh ibuk.
Kini aku tinggal bersama bude Iyan, aku diasuhnya sejak ibuk meninggal. Bude Iyan seorang janda dan memiliki dua orang anak. Bude Iyan bagiku seperti malaikat dia sangat baik pada keluargaku. Suatu saat aku ingin membalas kebaikannya karena bude Iyan lah aku bisa menempuh pendidikan sampai S1 dan aku sekarang sudah bekerja pada sebuah Bank Swasta di kota pahlawan ini.
Oh, Tuhan jika ini memang jalan hidupku, berilah aku kekuatan.
Sabtu, 27 Desember 2008
Selasa, 23 September 2008
Cerpen:Gadis Kecil dan Tuhan

Gadis kecil hanya ingin jadi gadis kecil yang selalu dimanja, gadis kecil yang sering dipuji banyak orang karena kecerdasaanya, kelincahan gadis kecil membuat semua orang kagum padanya, gadis kecil yang mendapatkan belaian ketika menjelang tidur, gadis kecil yang selalu penuh dengan impian besar, gadis kecil yang selalu disayang dan apa yang diinginkannya selalu dia dapatkan. Tapi Tuhan telah merampas semuanya dari gadis kecil. Gadis kecil membenci Tuhan karena gadis kecil merasa bahwa Tuhan tidak adil. Tuhan telah merampas segala-galanya darinya. Gadis kecil telah kehilangan semua milik dan kebahagiaannya. Gadis kecil benci Tuhan, gadis kecil selalu kehilangan orang-orang yang ia sayangi. Walaupun Gadis kecil hidup dalam keramaian tapi ia sendiri merasakan kesepian yang sangat luar biasa. Begitu banyak teman tapi mereka tidak satupun yang bisa memahaminya.
“Tak ada yang dapat menolongku, tak ada satupun yang dapat membuatku tersenyum kemblil”…………...
Gadis kecil hanya ingin mencari kebahagiaan yang telah direnggut oleh Tuhan, tapi gadis kecil selalu menemukan penderitaan. Tuhan sungguh tak adil, kenapa orang yang lebih buruk darinya selalu diberi kebahagiaan? Gadis kecil iri pada mereka. Tuhan pernah berjanji jika kita memohon pertolonganNya, pasti Tuhan akan selalu ada untuk kita. Tapi bagi gadis kecil Tuhan tak pernah ada, gadis kecil selalu memohon pada Tuhan untuk meminta keridhoan dan pertolongan keluar dari derita………semuanya hanya omongkosong bagi gadis kecil.
“Tuhan telah membohongiku, Tuhan tidak pernah membantuku dalam mengatasi semua kesulitan. Tuhan hanya membuatku menangis. Haruskah aku percaya Tuhan itu akan membantunku?”
Dan gadis kecil hanyalah gadis kecil yang merintih dengan sebuah kebencian. Gadis kecil itu benci kenapa ia dilahirkan hanya merasakan kesakitan, ia benci kenapa ia selalu mengalami peristiwa menyedihkan dalam hidupnya, ia benci kenapa hidup dipenuhi dengan air mata dan gadis kecil itu semakin benci kenapa didunia ini ada kehidupan yang sangat menyenggsarakannya. Baginya kebahagiaan tak layak untuknya karena Tuhan tidak pernah memberikan untuknya.
“Kemanakah kebahagiaan itu?lalu Tuhan memberikan kepada siapa?kenapa Tuhan tidak memberikan untukku?”
Namun, sebuah peristiwa telah menyadarkan gadis kecil, peristiwa yang meruntuhkan pikirannya tentang Tuhan selama ini. Peristiwa mengetuk pintu hatinya untuk menyadari kesalahannya tentang Tuhan.
“Tuhan tidak membuatku selamanya jatuh kedalam kesesatan” sebuah jeritan dihati gadis kecil itu, air mata membasahi pipinya yang dipenuhi lesung pipi. Sebab, Gadis kecil itu kini tumbuh menjadi, seorang wanita yang penuh dengan kekayaan hati, seorang wanita yang menjadi panutat bagi kaumnya, seorang wanita yang banyak dikagumin orang karena kecantikan hatinya, seorang wanita yang disegani para kaum adam karena menjadi wanita yang suci. Ternyata gadis kecil salah telah membenci Tuhan, gadis kecil sungguh begitu tersesat kalau saja Tuhan tidak menyadarinya, tidak membuka jiwanya yang telah mati. Inilah salah satu tanda kebesaran Tuhan, Tuhan masih menyayangi gadis kecil. Tuhan tidak membiarkan selamanya gadis kecil masuk kedalam kesesatan atas kebenciannya. Dulu gadis kecil pernah berkata “tak ada yang dapat menolongku”, tapi hanya Tuhanlah yang dapat menolongnya. Terimakasih Tuhan atas segalanya yang kau berikan pada gadis kecil, tanpa cobaan gadis kecil tidak akan kuat, tanpa derita gadis kecil tidak akan menjadi wanita seperti saat ini. Kini gadis kecil ini berubah menjadi wanita yang luar biasa. Gadis kecil belajar dari kehidupannya yang dulu kelam……………Tuhan tidak pernah memberikan apa yang gadis kecil inginkan akan tetapi Tuhan memberikan apa yang dibutuhkan gadis kecil.
S.Khodijah, penulis adalah Alumnus Mahasiswa Unesa Bahasa dan Seni dan sekaligus pernah menjadi Pemimpin Umum Majalah Widyawara Unesa.
Cerpen:WAJAH

19 Nopember……….
Ya, saat aku ingat malam itu hujan deras mengguyur dinding-dinding kamar kosan terasa dingin yang seakan-akan menusuk tulangku.
Oh, Tuhan luka itu kini telah berdarah tak ingin ku ulangi kembali terasa perih, perih yang menyesakkan.
Laci itu, laci yang tak ingin aku sentuh lagi untuk selamanya. Tapi, setan apa! Yang membuatku tak kuasa ingin membukanya. Kenapa, kenapa? Tanganku tak mau pergi dari laci itu. Dan….mataku terbelalak saat senyum, senyum manis itu terlihat jelas. Yaaa, aku masih ingat senyum itu, senyum yang masih melekat jauh dari terawangku dalam sebuah bingkai foto. Ada segelintir perih yang menoreh disana saat ku pegang dan aku sentuh tiap inci dari foto mu yang tak pernah bisa menyentuh hatimu yang sekeras batu. Tapi kini tidak lagi aku ingin memilikimu, bersamamu, mendampingimu. Aku lelah dengan semuanya dan aku tak sanggup lagi berjalan disampingmu dalam setiap langkahmu, karena aku bukan “budak” aku temanmu yang selalu setia mendampingi, mengisi hari-harimu dengan harapan-harapan manis dan suka duka yang pernah kita lalui bersama.
Masih aku ingat kata-kata yang kau lempar padaku hingga membuatku seperti ini dan air mata menghiasi kejadian malam itu.”Aku sudah membuatmu senang, jadi seharusnya kamu menuruti semua keinginanku”. Sakit, sakit sekali mendengar ucapanmu. Apakah selama ini persahabatan kita kau nilai dengan materi? Dan kau bisa berbuat semaunya padaku sampai menginjak-nginjakku. Adakah kau tahu selama ini aku cukup bersabar dengan segala tingkahmu dan aku tidak inginkan semua materi itu yang bisa membutakan orang. Aku hanya ingin persahabatan kita utuh selamanya karena aku sayang kamu dan tak mau kehilanganmu.
Sejak kau lempar kata-kata itu, aku mulai sadar betapa bodohnya aku yang begitu percaya dan menganggap dirimu teman sejati dalam hidupku. Kini kita tak pernah bertemu lagi dan aku tak tahu dirimu ada dimana, mungkin lebih baik aku tak ingin tahu tentang dirimu lagi karena luka itu belum sembuh benar. Tapi harus ku yakini ini sejarah bagi ku. Sejarah yang terkadang masih menghantui pikiran.
12 Mei………
Braaak……! tiba-tiba hp Flexiku tanpa aku sadari jatuh dari tanganku. Aku kaget setengah mati mendengar kabar kalau dirimu kecelakaan dan kehilangan sebelah kakimu. ”Sit, sit, sit …..hallo, hallo, hallo….sit, kamu masih disitu? Kamu tidak apa-apa sit?” tanya tante Rani. ”Ia tante aku tidak apa-apa”. Tut, tut, tut, tut……seketika aku matikan hpku.
Sedihkah aku mendengar berita ini? Bahagiakah aku mendengar kejadian ini? Masih adakah rasa peduliku untukmu yang telah menanam luka itu. Ya, Tuhan aku harus bagaimana, apakah aku harus mengunjunginya di rumah sakit dengan melihat wajah yang bagiku sudah muak aku melihatnya.
Keesokan harinya temanku bertanya, ”Sit kapan jenguk Arca?”. Tapi mulutku enggan menjawab, aku merasa males untuk menjawabnya.
Sudah tiga hari kamu berada di rumah sakit dalam keadaan koma, aku terus berpikir dan berpikir apa yang mesti aku lakukan? Rasanya hati ini tidak rela memaafkan dirimu. Brengsek! Setan di dalam jiwaku masih kuat saja untuk membenci dirimu. Tapi akhirnya setan di jiwaku kalah juga setelah seorang teman yang setengah rohis menceramahiku dengan berbagai aqidah, aqidah yang selama ini aku gantung.
Dengan setenga pikiran kacau aku beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi dan siap berangkat ke rumah sakit. Di kamar mandi aku melihat wajahku pada bak mandi yang berisi air jernih sejernih jiwaku sebelum kejadian itu, aku tatap wajahku yang terasa aneh akhir-akhir itu. Ya, benar wajahku di bak mandi terlihat jelas kebencianku terhadap dirimu. Sampai aku tak mengenali wajahku.
Ah, aku tidak perduli apakah aku masih membencimu atau telah luntur kebencianku? Yang terpenting aku harus keluar dari kamar mandi ini, bisa-bisa aku disidang teman-teman satu kosan.
Sesampai di rumah sakit kamar 305A aku lihat tante Rani penuh senyum melihat kedatanganku. ”Sit, masuk sini duduk di dekat Arca” kata tante Rani, dengan sedikit senyum lebarnya. Aku hanya bisa mengangguk saja dan aku pun menuju ketempat dirimu terkujur tak berdaya. Ada senyum melekat disana, senyum yang tidak pernah bisa aku lupakan. Tiba-tiba air mata mengalir deras dipipiku, sungguh terasa aneh bin ajaib ,kenapa tiba-tiba aku menangis untuk sebuah luka. Aku benar tidak sadar, kok bisa aku mengeluarkan air mata saat melihat kondisimu. Semua orang yang berada di ruangan itu tercengang melihatku dengan sebuah air mata yang aku sendiri tak mengerti makna air mata itu.
Tak sepatah kata dariku yang bisa ku ucapakan padamu. Dan kau terus menggenggam tanganku dan tersenyum lepas. “Sit , kau masih mau bersamaku lagi?” kamu lontarkan kata-kata itu tanpa berpikir bagaimana perasaanku. Aku hanya bisa terdiam dengan air mata yang terus saja mengalir deras dari pelupuk mata.
Di angkot aku terus melamun dengan kejadian di rumah sakit itu. Aku menangis untuk sebuah luka? aku kalah dengan perasaanku sendiri? Apakah aku sedih dengan keadaanmu? Aku benar-benar tidak tak mengerti apa yang terjadi dengan diriku.
Brengsek! akhirnya aku luluh juga dengan mu, aku benar-benar kalah, aku goblok dengan tangisan itu. Setan dijiwaku mulai memperkuat bentengnya lagi.
Gara-gara kejadian di rumah sakit itu aku tidak bisa tidur semalaman. Uuuh! Aku bingung dan benar bingung dengan diriku sendiri.
Kriiing…kriiing…kriiing. ”Hallo, hallo, hallo! sit, dia telah pergi”.
“Dia, dia, diii…aaa siapa tante?” tanyaku setengah sadar. ”Arca, sit” jawab tante Rani dengan nada sedikit parau. Oh, Tuhan luka itu telah pergi selamanya dariku, gundah jiwaku yang mulai tidak aku kenali sembari menuju ke sebuah cermin di kamarku dan terlihat garis senyum di wajahku…….ternyata setan yang bersarang dijiwaku sudah berubah menjadi sebuah wajah, wajah yang sama di bak mandi itu.
Jumat, 30 Mei 2008
Kubahagia
Melly Goeslaw
Di atas bumi ini kuberpijak
Pada jiwa yang tenang di hariku
Tak pernah ada duka yang terlintas
Kubahagia….
Ingin kulukis semua hidup ini
Dengan cinta dan cita yang terindah
Masa muda yang tak pernah kan mendung
Kubahagia….
Dalam hidup ini
Arungi semua cerita indahku
Saat-saat remaja yang terindah
Tak bisa terulang….
Kuingin nikmati
Segala jalan yang ada di hadapku
Kan kutanamkan cinta tuk kasihku
Agar……. Kubahagia…..
Melly Goeslaw
Di atas bumi ini kuberpijak
Pada jiwa yang tenang di hariku
Tak pernah ada duka yang terlintas
Kubahagia….
Ingin kulukis semua hidup ini
Dengan cinta dan cita yang terindah
Masa muda yang tak pernah kan mendung
Kubahagia….
Dalam hidup ini
Arungi semua cerita indahku
Saat-saat remaja yang terindah
Tak bisa terulang….
Kuingin nikmati
Segala jalan yang ada di hadapku
Kan kutanamkan cinta tuk kasihku
Agar……. Kubahagia…..
Kamis, 29 Mei 2008
hidup harus penuh dengan keyakinan, sobat!
When You Believe
Mariah Carey with Whitney Houston
Many nights we pray
With no proof anyone could hear
And our heart a hopeful
We bardy understood
Now we are not afraid
Although we know there’s much to fear
We were moving mountains long
Before we know we could
There can be miracle
When you believe
Though hope is frail
It’s hard to kill
Who knows what miracles
You can achieve
When you will
You will when you believe
In this time of time of fear
When prayer so often proves in vian
Hope seems like the summer birds
Too swiftly flows away
And now I am standing here
My heart’s so full I can’t explain
Seeking faith and speaking words
I never thought I’d say
They don’t always happen when you ask
And it’s easy to give in to your fear
But when you’re blinded by your pain
Can’t see your way safe through the rain
Thought of a still resilient voice
Say love is very near
...........................................................................
saya tertegun setelah mendengarkan lagu ini, bahwa hidup ini harus mempunyai keyakinan dan dari keyakinan itu akan melahirkan sebuah keajaiban.jika kita hidup penuh dengan keyakinan sesuatu yang kita rencanakan pasti bisa kita dapatkan lagu ini memberi saya inspirasi dan semangat untuk terus tegar menghadapi segala cobaan,waktu itu saya down dan saya merasa tidak ada seorang pun yang dapat membantu dan mengerti rasanya air mata terasa kering sampai-sampai saya harus keluar masuk rumah sakit. saya hanya bisa menangis dan terus berdoa.setiap malam air mata saya tumpahkan pada sang ilah dan saya meyadari arti sebuah doa yaitu kita harus yakin doa kita pasti dikabul oleh Nya maka keajaiban akan terjadi.sungguh hidup ini memang berat kalau kita tidak menjadi orang yang sabar, ikhlas dan kuncinya adalah keyakinan.
Mariah Carey with Whitney Houston
Many nights we pray
With no proof anyone could hear
And our heart a hopeful
We bardy understood
Now we are not afraid
Although we know there’s much to fear
We were moving mountains long
Before we know we could
There can be miracle
When you believe
Though hope is frail
It’s hard to kill
Who knows what miracles
You can achieve
When you will
You will when you believe
In this time of time of fear
When prayer so often proves in vian
Hope seems like the summer birds
Too swiftly flows away
And now I am standing here
My heart’s so full I can’t explain
Seeking faith and speaking words
I never thought I’d say
They don’t always happen when you ask
And it’s easy to give in to your fear
But when you’re blinded by your pain
Can’t see your way safe through the rain
Thought of a still resilient voice
Say love is very near
...........................................................................
saya tertegun setelah mendengarkan lagu ini, bahwa hidup ini harus mempunyai keyakinan dan dari keyakinan itu akan melahirkan sebuah keajaiban.jika kita hidup penuh dengan keyakinan sesuatu yang kita rencanakan pasti bisa kita dapatkan lagu ini memberi saya inspirasi dan semangat untuk terus tegar menghadapi segala cobaan,waktu itu saya down dan saya merasa tidak ada seorang pun yang dapat membantu dan mengerti rasanya air mata terasa kering sampai-sampai saya harus keluar masuk rumah sakit. saya hanya bisa menangis dan terus berdoa.setiap malam air mata saya tumpahkan pada sang ilah dan saya meyadari arti sebuah doa yaitu kita harus yakin doa kita pasti dikabul oleh Nya maka keajaiban akan terjadi.sungguh hidup ini memang berat kalau kita tidak menjadi orang yang sabar, ikhlas dan kuncinya adalah keyakinan.
Selasa, 22 April 2008
catatan di blogku

Sebenarnya tulisan yang aku buat di blog ini semua tentang uneq-uneq ku yang aku apresiasikan lewat musik. musik it's my life, dengan musik aku bisa mengalirkan energi dalam tiap kehidupanku, dengan musik pula aku dapat menemukan "siapa aku?" dan musik terlebih lagi menyegarkan otakku ketika kegalauan, kepenakan dengan berbagai aktivitas sehari-hari menimpaku.
Sabtu, 19 April 2008
Cerita Kehidupan

BERITA KEPADA KAWAN
Ebiet G. Ade
Perjalanan ini
Terasa sangat menyedihkan
Sayang engkau tak duduk disampingku kawan
Banyak cerita yang mestinya kau saksikan
Ditanah kering bebatuan
Tubuhku terguncang dihempas batu jalanan
Hati tergetar menampak kering rerumputan
Perjalanan inipun seperti jadi saksi
Gembala kecil menangis sedih
Kawan coba dengar apa jawabnya
Ketika ia kutanya mengapa
Bapak ibunya telah lama mati
Ditelan bencana tanah ini
Sesampainya dilaut
Kukabarkan semuanya
Kepada karang kepada ombak kepada matahari
Tetapi semua diam tetapi semua bisu
Tinggalah aku sendiri terpaku menatap langit
Barang kali disana ada jawabnya
Mengapa ditanahku terjadi bencana
Mungkin Tuhan mulai bosan
Melihat tingkah kita yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa
atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita
Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang
Pertama kali aku mendengar lagu ini saat perjalanan pulang kekampung halamanku, seketika itu tiba-tiba air mataku jatuh ada rasa sedih dan luka yang begitu dalam disana. waktu itu juga aku melihat pengemis-pengemis jalanan, anak2 jalanan yang putus sekolah, para pedagang kaki lima yang sedang dijaring oleh petugas rantip, mereka terus berteriak, mengumpat petugas rantip diiringi tangis yang tiada henti-hentinya. tapi kita yang diatas tidak perduli dengan keadaan mereka, sok cuek, "masa bodoh toh itu urusan negara" salah satu celetoh penumpang disampingku.
kita hanya bisa membela diri dengan perkataan"kita hidup dinegeri ini sudah sangat susah dimana-mana terjadi bencana, apalagi mau menolong orang lain, kalau kita menolong orang terus siapa yang mau menjamin hidup kita? negara saja tidak sanggup menolong orang yang ada diatas kita apalagi kita." ironis memang mendengar pengakuan mereka, aku hanya bisa menelan ludah tak mampu berbuat apa-apa untuk mereka, aku hanya bisa mengelus dada dan semenjak itu aku berkata "aku tidak akan pulang kekampung halamanku sebelum aku sukses dinegeri orang. malu rasanya tidak bisa berbuat apa-apa untuk tanah kelahiran kita." memang sulit hidup ini oh Tuhan........
Langganan:
Komentar (Atom)