
Aku Kirana, aku akan bercerita tentang seseorang yang telah membuat hatiku beku sampai saat ini dan bahkan aku tidak tau sampai kapan kebekuan ini akan mencair……….
Aku tidak tau apa ini disebut kejatuhan rezeki atau bencana terbesar dalam hidupku. Memang dulu aku pernah menginginkan jabatan itu tapi aku tidak punya keberanian untuk mengapainya. Suatu ketika ada seorang teman namanya evanthu, nama yang aneh lain dari pada yang lain dan aku tidak pernah mengerti arti nama itu sampai kita tak bersama lagi. Entah, apa yang membuatku sangat dekat dengan orang yang satu ini. Aku juga bingung mastinyaku sebut apa Evanthu dalam hidupku, dewa penolongkah, manusia setengah dewakah atau srigala berbulu domba?
Kenapa aku menyebutnya srigala berbulu domba? ya, aku masih ingat kejadian yang membuatku sangat membenci Evanthu. Aku selama ini merasa sebagai alat untuk tujuan idealismenya sampai mengalahkan idealisme yang pernah aku sentuh. Saat aku mendapatkan semua impianku atas jasanya, aku merasa Evanthu mempunyai maksud tertentu dan aku tak lebih hanya sebagai tumbalnya.
Dulu aku merasakan simpati yang luar biasa dan betapa besar jasa Evanthu padaku, hingga aku rela dan manut saja atas keinginannya. Dengan Evanthu aku merasa terlindungi atas ketakutan-ketakutan setelah mendapatkan impian itu.
Tapi setelah aku tau siapa Evanthu rasanya bagaikan cambukan cukup keras yang meninggalkan memar luka begitu dalam di hati ini. Evanthu telah berubah dan semakin menjauhiku bahkan melihat mukaku saja Evanthu enggan.
Mungkinkah ini juga salahku?......setelah impian itu ada digenggaman dan aku benar-benar terlena dalam kenikmatan yang aku agung-agungkan. Bahkan aku merasa semakin jarang bersama Evanthu dan Evanthu membiarkan aku dalam kesendirian menikmati impian itu. Apakah itu yang membuat Evanthu jauh berubah? Sampai detik ini aku tidak pernah mengerti kenapa Evanthu berubah dengan menghukumku sebagai tumbalnya? jika memang aku yang kau anggap berubah kenapa kau tak membangunkan aku dari impian yang telah menghancurkan benang merah yang ada di antara kita, Evanthu?
Hari demi hari kulalui tanpa evanthu disisiku saat menjalankan impian itu dan aku benar-benar lupa dengan keberadaannya. Kini manusia setengah dewa telah jauh dariku….ataukah manusia srigala yang berbulu domba itu tidak akan pernah ku maafkan sampai detik waktu nafasku terhenti?.......
Namun pantaskah aku membenci Evanthu? Apakah semua ini teka teki sebagai pelajaran hidupku yang memang sengaja kau buat?
“Kirana!” tiba-tiba ada suara yang menghampiri gendang telingaku dan aku masih ingat betul suara itu. Aku menoleh kearah sumber suara itu dengan keyakinan itu suara Evanthu dan ternyata itu benar-benar dirimu manusia setengah dewa ataukah srigala berbulu domba yang memanggil namaku. Mataku terbelalak dan…….tiba-tiba hatiku menjadi dingin begitu dingin sedingin gunung es.
Tanpa sepatah kata aku menoleh dan membalas senyuman Evanthu dengan berlalu pergi dari tempat itu. Di tempat itulah semua terasa ada sesuatu yang membeku dalam jiwaku…..yang tak bisa aku cairkan dengan sebuah keikhlasan itu…….
Aku tidak tau apa ini disebut kejatuhan rezeki atau bencana terbesar dalam hidupku. Memang dulu aku pernah menginginkan jabatan itu tapi aku tidak punya keberanian untuk mengapainya. Suatu ketika ada seorang teman namanya evanthu, nama yang aneh lain dari pada yang lain dan aku tidak pernah mengerti arti nama itu sampai kita tak bersama lagi. Entah, apa yang membuatku sangat dekat dengan orang yang satu ini. Aku juga bingung mastinyaku sebut apa Evanthu dalam hidupku, dewa penolongkah, manusia setengah dewakah atau srigala berbulu domba?
Kenapa aku menyebutnya srigala berbulu domba? ya, aku masih ingat kejadian yang membuatku sangat membenci Evanthu. Aku selama ini merasa sebagai alat untuk tujuan idealismenya sampai mengalahkan idealisme yang pernah aku sentuh. Saat aku mendapatkan semua impianku atas jasanya, aku merasa Evanthu mempunyai maksud tertentu dan aku tak lebih hanya sebagai tumbalnya.
Dulu aku merasakan simpati yang luar biasa dan betapa besar jasa Evanthu padaku, hingga aku rela dan manut saja atas keinginannya. Dengan Evanthu aku merasa terlindungi atas ketakutan-ketakutan setelah mendapatkan impian itu.
Tapi setelah aku tau siapa Evanthu rasanya bagaikan cambukan cukup keras yang meninggalkan memar luka begitu dalam di hati ini. Evanthu telah berubah dan semakin menjauhiku bahkan melihat mukaku saja Evanthu enggan.
Mungkinkah ini juga salahku?......setelah impian itu ada digenggaman dan aku benar-benar terlena dalam kenikmatan yang aku agung-agungkan. Bahkan aku merasa semakin jarang bersama Evanthu dan Evanthu membiarkan aku dalam kesendirian menikmati impian itu. Apakah itu yang membuat Evanthu jauh berubah? Sampai detik ini aku tidak pernah mengerti kenapa Evanthu berubah dengan menghukumku sebagai tumbalnya? jika memang aku yang kau anggap berubah kenapa kau tak membangunkan aku dari impian yang telah menghancurkan benang merah yang ada di antara kita, Evanthu?
Hari demi hari kulalui tanpa evanthu disisiku saat menjalankan impian itu dan aku benar-benar lupa dengan keberadaannya. Kini manusia setengah dewa telah jauh dariku….ataukah manusia srigala yang berbulu domba itu tidak akan pernah ku maafkan sampai detik waktu nafasku terhenti?.......
Namun pantaskah aku membenci Evanthu? Apakah semua ini teka teki sebagai pelajaran hidupku yang memang sengaja kau buat?
“Kirana!” tiba-tiba ada suara yang menghampiri gendang telingaku dan aku masih ingat betul suara itu. Aku menoleh kearah sumber suara itu dengan keyakinan itu suara Evanthu dan ternyata itu benar-benar dirimu manusia setengah dewa ataukah srigala berbulu domba yang memanggil namaku. Mataku terbelalak dan…….tiba-tiba hatiku menjadi dingin begitu dingin sedingin gunung es.
Tanpa sepatah kata aku menoleh dan membalas senyuman Evanthu dengan berlalu pergi dari tempat itu. Di tempat itulah semua terasa ada sesuatu yang membeku dalam jiwaku…..yang tak bisa aku cairkan dengan sebuah keikhlasan itu…….
Tidak ada komentar:
Posting Komentar