Rabu, 02 April 2008

steotrip madura


Selama ini saya akui bagaimana masyarakat luar Madura memandang perilaku Budaya orang Madura tidak lepas dari stereotip negatif, mengapa saya katakan seperti itu? Sebab, saya sendiri berasal dari Madura. Sungguh tragis dan perih apa yang saya alami bukan saya saja bahkan ribuan orang Madura lainnya, ini semakin terasa sangat jelas ketika saya berada di negeri orang. Padahal jika mau jujur tidak ada masyarakat manapun yang steril dari stereotip negatif, patut disesalkan memang jika stereotip dari suatu masyarakat tertentu justru sengaja dibuat sebagai alat justifikasi atau membenarkan dan mengunggulkan perilaku dan sikap masyarakat lain (etnosentrisme).
Semoga dari tulisan ini dapat memberikan bahan perenungan bagi orang luar Madura maupun orang Madura sendiri yang saya ambil dari berbagai sumber.
Barangkali tidak asing lagi jika selama ini orang madura hampir sebagian besar dapat ditemukan di berbagai daerah di Indonesia. Pada umumnya orang Madura lebih suka merantau dengan tujuan utama untuk memperoleh penghidupan yang layak. Orang Madura pergi merantau pasti yang akan dituju kali pertama adalah sanak keluarga yang terlebih dahulu bermukim di tempat merantau. Semua dilakukan tidak hanya faktor sosial ekonomi saja tetapi orang Madura mempunyai kewajiban untuk tetap menjaga dan memelihara ikatan kekerabatan di antara sanak keluarganya.
Dalam kaitan dengan kekerabatan masyarakat Madura juga memiliki rasa sosialisme yang tinggi. Bagi masyarakat Madura orang yang sama sekali tidak mempunyai ikatan atau hubungan baik secara genealogis maupun melalui adat perkawinan dapat juga dianggap sebagai kerabat. Artinya, orang yang sama sekali tidak mempunyai kedua macam hubungan tersebut akan dianggap dan diperlakukan sebagai kerabat (taretan) bahkan bisa jadi lebih daripada itu, jika kualitas hubungan sosial yang terjalin benar-benar dilandasi oleh keikhlasan dan ketulusan. Implementasi dari hubungan sosial semacam ini, orang Madura tidak akan segan-segan melakukan apa saja (kalau perlu nyawa pun akan diserahkan) untuk menjaga tetap terpiliharanya hubungan sosial yang terjalin itu. Sebaliknya jika pelecehan harga diri sehingga orang Madura merasa malu (malo) maka yang terjadi adalah perlawanan amat keras sekaligus hancurnya hubungan sosial yang telah dibangun (Retno,2007).
Namun disisi lain jika ikatan kekerabatan baik yang berdasarkan hubungan genealogis maupun perkawinan yang dirasa mulai jauh atau longgar, maka orang Madura melakukan perkawinan antar anggota keluarga untuk kembali mempererat hubungan sanak keluarga..
Selain deskripsi perilaku budaya orang Madura diatas ada yang menarik tentang sikap dan perilaku orang Madura yaitu ulet. Keuletan orang Madura sangat berhasil dan bahkan keberhasilannya melebihi masyarakat asli tempat merantau. Semangat keuletan orang Madura tidak akan mati sampai ia dikatakan berhasil mengubah kehidupan perekonomiannya lebih baik ketika kembali ke tanah kelahirannya.

Tidak ada komentar: